Senin, 27 Juli 2015

PENDEKATAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DALAM UPAYA PENANGGULANGAN KEMISKINAN BERDASARKAN KERANGKA PEMBANGUNAN EKONOMI LOKAL



PENDEKATAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DALAM UPAYA PENANGGULANGAN KEMISKINAN BERDASARKAN 
KERANGKA PEMBANGUNAN EKONOMI LOKAL
 (Studi Kasus Optimalisasi Sumber Daya Perikanan di Kabupaten Kepulauan Mentawai
 Oleh : Cici Anggara, S.Pi.MP


PENDAHULUAN


Setelah diberlakukannya otonomi daerah, sebagian besar kewenangan pemerintah pusat dilimpahkan ke daerah. Pelimpahan kewenangan yang besar ini disertai tanggung jawab yang besar berupa kewajiban daerah untuk meningkatkan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat, pengembangan kehidupan demokrasi, keadilan dan pemerataan. Dengan demikian untuk menghadapi berbagai persoalan seperti kemiskinan, pemerintah daerah tidak bisa lagi menggantungkan penanggulangannya kepada pemerintah pusat. Di dalam kewenangan otonomi yang dipunyai daerah, melekat pula tanggung jawab untuk secara aktif dan secara langsung mengupayakan pengentasan kemiskinan di daerah bersangkutan. Dengan kata lain, pemerintah daerah dituntut untuk memiliki inisiatif kebijakan operasional yang bersifat pro masyarakat miskin.
Salah satu kebijakan pembangunan yang dipandang tepat dan strategis dalam rangka pembangunan daerah, sekaligus mengantisipasi dimulainya era perdagangan bebas adalah kebijakan pengembangan ekonomi lokal. Kebijakan pengembngan ekonomi lokal pada hakekatnya merupakan kebijakan pembangunan di daerah yang didasarkan pada pengembangan sektor-sektor yang menjadi prioritas unggulan yang diusahakan dalam aktivitas ekonomi masyarakat lokal (Wiranto, 2004).
Pengembangan ekonomi lokal pada hakikatnya adalah merupakan pembangunan ekonomi di suatu wilayah kabupaten atau kota, yang merupakan kerjasama antara seluruh pelaku ekonomi di wilayah yang bersangkutan. Pembangunan ekonomi lokal merupakan bagian integral dari pembangunan daerah. Pendekatan konsep pembangunan ekonomi lokal ini memberikan peluang kepada suatu komunitas untuk berperan dan berinisiatif menggerakkan sumberdaya-sumberdaya lokal yang ada untuk membangun komunitas tersebut. Dengan adanya pembangunan ekonomi lokal ini memungkinkan kelompok masyarakat miskin produktif seperti nelayan dapat masuk dalam mata rantai perekonomian yang lebih besar (Dendi et al, 2004).
Dalam rangka pengembangan ekonomi lokal, value utaamanya adalah mampu berkontribusi dalam mengurangi angka kemiskinan. Kemiskinan sudah menjadi isu sentral dan global dalam kaitannya dengan pengembangan ekonomi lokal. Saat ini, paradigma kemiskinan bergeser menjadi subject to subject (Nasdian, 2005). Artinya bahwa dalam penanganan kemiskinan perlu lebih melibatkan penduduk miskin sebagai subjek pembangunan dan diharapkan penanggulangan kemiskinan nantinya dapat dilakukan sendiri oleh masyarakat (Muchtar, 2006). Selanjutnya kesejahteraan memerlukan beberapa perhatian. Pertama ruang lingkup masyarakat adalah sebagai suatu sistem yang terintegrasi. Kedua kemandirian merupakan bentuk sistem kerjasama yang bersifat interdependen, sinergis dan bersistem. Ketiga kemiskinan memiliki dimensi dinamis dan berkelanjutan secara mandiri. Keempat krisis ditempatkan sebagai sesuatu yang mengganggu dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat dalam lingkup luasan dan waktu yang secara substansial membahayakan dan menjauhkan dari pencapaian kesejahteraan dan kelima kesejahteraan yang adil diartikan tercapainya keseimbangan antara kesempatan, kontribusi dan imbalan yang dapat diraih oleh setiap pihak dalam bermasyarakat.
Pembangunan berkelanjutan bertujuan untuk menjamin sumber daya alam, sosial dan budaya yang dimanfaatkan untuk kegiatan perekonomian pada generasi sekarang, juga dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang. Pembangunan  berkelanjutan tersebut dapat dilakukan dengan inventarisasi dan analisis potensi sumberdaya lingkungan fisik, biologi, dan sosial budaya. Inventarisasi potensi fisik perikanan di kabupaten kepulauan mentawai dilakukan untuk melihat kesesuaian lingkungan fisik untuk pengembangan perikanan berkelanjutan. Inventarisasi potensi biologi dilakukan untuk mengetahui hasil tangkapan yang terdapat di kawasan Perikanan Kabupaten Kepulauan mentawai. Inventarisasi potensi sosial budaya dilakukan untuk mengetahui potensi budaya masyarakat setempat yang dapat menjadi aset dalam mengembangkan perekonomian lokal.  
Kabupaten Kepulauan Mentawai merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Barat yang terletak di Samudera Indonesia. Daerah Kabupaten Kepulauan Mentawai dikelilingi oleh perairan dengan luas laut ekonomis 78.018,43 km2. Perairan Mentawai memiliki potensi sumberdaya perikanan yang besar untuk dikelola. Potensi lestari ikan pelagis Kabupaten Kepulauan Mentawai 127.721 ton/tahun. Potensi sumberdaya ikan tentunya dapat memberikan kontribusi dalam pembangunan dan pendapatan daerah (DKP Kabupaten Kepulauan Mentawai, 2012).
Pendapatan daerah Kabupaten Kepulauan Mentawai berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku pada tahun 2007-2011 mengalami peningkatan sebesar 78,29 %. PDRB atas dasar harga berlaku pada sektor perikanan tahun 2007-2011 mengalami peningkatan sebesar 94,06 % (BPS Kabupaten Kepulauan Mentawai, 2012). PDRB daerah tersebut berdasarkan sektor perikanan dan seluruh sektor dari tahun 2007 hingga 2011 terus mengalami peningkatan setiap tahunnya dengan pertumbuhan rata-rata pertahunnya sebesar 18,11 % dan 15,59 %. Pendapatan perkapita Kabupaten Kepulauan Mentawai pada tahun 2006 sebesar Rp 12.177.390, 64 dan pada tahun 2007 sebesar Rp 13.760.877,04. Bertambahnya hasil pendapatan daerah tentunya dipengaruhi oleh sektor perikanan dan perkembangan kegiatan perikanan yang ada di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Kegiatan perikanan dilakukan dengan memanfaatkan sumberdaya perikanan yang tersedia yang tujuannya untuk memberikan kontribusi dalam pembangunan daerah.
Ketersediaan sumberdaya perikanan yang besar di Kabupaten Kepulauan Mentawai tentunya harus memiliki dampak peningkatan kesejehteraan masyarakat dan mampu berkntribusi terhadap pengurangan angka kemiskinan di kabupaten Kepulauan Mentawai. Dalam kerangka mengoptimalkan Sumberdaya perikanan di Kabupaten Kepulauan Mentawai maka perlu pengoptimalan center of fisheris yaitu pelabuhan perikanan yang merupakan aset pemerintah daerah dalam mengembangakan potensi sumberdaya lokal yang ada.
Pelabuhan perikanan yang terdapat di Kabupaten Kepulauan Mentawai yaitu Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Sikakap. Pelabuhan ini memiliki peluang besar untuk memanfaatkan potensi sumberdaya perikanan karena merupakan pelabuhan perikanan satu-satunya yang ada di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Sikakap merupakan salah satu sentra ekonomi perikanan yang terletak di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Pelabuhan tersebut dilengkapi berbagai fasilitas seperti fasilitas pokok, fungsional dan fasilitas tambahan/ penunjang. PPP Sikakap memiliki beberapa kelebihan diantaranya letaknya strategis dan mudah dijangkau oleh masyarakat, berdekatan dengan pasar ikan sehingga aksesnya lebih mudah, serta ketersediaan sumberdaya ikan di sekitar perairan setempat.
 


Kondisi Umum Kabupaten Kepulauan Mentawai

Kabupaten Kepulauan Mentawai merupakan bagian dari Propinsi Sumatera Barat yang telah ditetapkan dengan UU No. 49 tahun 1999. Kabupaten Kepulauan Mentawai beribukota Tuapejat yang terletak di Kecamatan Sipora Utara dengan jarak dari Kota Padang sejauh 153 km. Secara geografis Kepulauan Mentawai terletak pada 0055’00’’ - 3021’00’’ LS dan 98035’00’’ – 100032’00’’ BT dengan luas wilayah kurang lebih 6.011,35 km2 dan memiliki garis pantai 1.402,66 km. Batas-batas wilayahnya sebagai berikut: sebelah utara berbatasan dengan Selat Siberut, sebelah selatan berbatasan dengan Selat Sanding, sebelah timur berbatasan dengan Selat Mentawai dan sebelah barat berbatasan dengan Samudera Indonesia. Secara topografi, keadaan Kabupaten Kepulauan Mentawai bervariasi antara bukit-bukit dengan ketinggian 0 hingga 200 meter dari permukaan laut (dpl), dan dialiri sekitar 17 sungai utama yang berhilir di sisi timur dan barat gugusan pulau. Tabel 1 Luas dari setiap kecamatan beserta ibukota kecamatan di Kabupaten Kepulauan Mentawai

Tabel 1 Luas dari setiap kecamatan di Kabupaten Kepulauan Mentawai
Kecamatan
Ibu Kota Kecamatan
Luas wilayah (Km2)

Pagai Selatan
Bulasat
901,08

Sikakap
Sikakap
278,45

Pagai Utara
Saumanganyak
342,02

Sipora Selatan
Sioban
268,47

Sipora Utara
Sido Makmur
383,08

Siberut Selatan
Muara Siberut
508,33

Siberut Barat
Daya Pasakiat Taileleu
649,08

Siberut Tengah
Saibi Samukop
739,87

Siberut Utara
Muara Sikabaluan
816,11

Siberut Barat
Simalegi
1.124,86

Kepulauan Mentawai
6.011,35


Sumber : BPS Kabupaten Kepulauan Mentawai, 2014

Jumlah penduduk Kabupaten Kepulauan Mentawai berdasarkan hasil sensus penduduk pada tahun 2010 tercatat 76.173 jiwa yang terdiri dari penduduk laki-laki sebanyak 39.504 jiwa dan perempuan sebanyak 36.669 jiwa atau mengalami peningkatan sekitar 2,07 % jika dibandingkan dengan jumlah penduduk pada tahun 2009 sebanyak 74.625 jiwa. Pertumbuhan dan jumlah penduduk berdasarkan kecamatan di Kabupaten kepulauan Mentawai dapat dilihat pada Tabel 2

Tabel 2 Pertumbuhan penduduk Kabupaten Kepulauan Mentawai
Tahun
Jumlah Penduduk (Jiwa)
Pertumbuhan (%)
2006
69.774
-
2007
71.355
2,27
2008
72.972
2,27
2009
74.625
2,27
2010
76.173
2,07
2011
77.077
1,19
Sumber : BPS Kabupaten Kepulauan Mentawai, 2014

Berdasarkan data yang diperoleh, menurut Badan Pusat Statistik Kabupaten Kepulauan Mentawai pertumbuhan penduduk yang terjadi semakin meningkat. Jumlah penduduk pada tahun 2006-2009 mengalami pertumbuhan sebesar 2,27 %, tahun 2010 dan 2011 masing-masing mengalami pertumbuhan sebesar 2,07% dan 1,19 %.

Tabel 3 Jumlah penduduk berdasarkan kecamatan tahun 2013
Kecamatan
Penduduk
Jumlah
Laki-Laki
Perempuan
Penduduk
Pagai Selatan
4.735
4.153
8.888
Sikakap
5.082
4.562
9.644
Pagai Utara
2.774
2.500
5.274
Sipora Selatan
4.497
4.067
8.560
Sipora Utara
4.851
4.354
9.205
Siberut Selatan
4.482
4.063
8.546
Siberut Barat Daya
3.247
2.894
6.141
Siberut Tengah
3.229
2.912
6.141
Siberut Utara
4.135
3.731
7.866
Siberut Barat
3.600
3.213
6.813
Total
40.632
36.449
77.078















Sumber : BPS Kabupaten Kepulauan Mentawai, 2014

Keterbatasan sarana pendidikan serta kurangnya kesadaran masyarakat Mentawai terhadap pentingnya pendidikan mengakibatkan rendahnya kualitas sumberdaya manusia di daerah ini. Tingkat pendidikan berdasarkan kecamatan serta seluruh penduduk Kabupaten Kepulauan Mentawai tahun 2010 dapat dilihat pada Tabel 4 dan 5.
Tabel 4 Tingkat pendidikan penduduk berdasarkan kecamatan di Kabupaten Mentawai tahun 2013













Sumber : BPS Kabupaten Kepulauan Mentawai, 2013
Potensi Perikanan Kabupaten Kepulauan Mentawai

Kabupaten Kepulauan Mentawai memiliki potensi perikanan yang cukup besar, baik untuk perikanan darat maupun perikanan lautnya. Perairan laut di Kabupaten Kepulauan Mentawai memiliki garis pantai sepanjang 1.402,66 km. Perairan laut dapat dikembangkan melalui operasi penangkapan dari Selat Mentawai hingga ke Samudera Hindia. Potensi perikanan Kabupaten Kepulauan dapat dilihat pada Tabel 11. Potensi perikanan di Kabupaten Kepulauan Mentawai masih dapat dikembangkan terutama pada pengembangan perikanan laut dengan memfasilitasi nelayan dengan alat dan teknologi penangkapan yang moderen. Potensi perikanan merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan untuk pembangunan daerah sehingga dapat memberikan kontribusi yang besar dalam peningkatan status sosial masyarakat Kabupaten Mentawai.

Tabel 5 Potensi Perikanan Kabupaten Kepulauan Mentawai













Peranan Sektor Perikanan terhadap Perekonomian Daerah

PDRB Kabupaten Kepulauan Mentawai

Sektor perikanan memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Pendapatan sektor perikanan Kabupaten Kepulauan Mentawai pada tahun 2000-2010 mengalami peningkatan setiap tahunnya. Kontribusi sektor perikanan terhadap pendapatan daerah dapat dilihat pada nilai Z pada Tabel 6.
Tabel 6 menjelaskan bahwa persentase kontribusi pendapatan sektor perikanan terhadap pendapatan daerah Kabupaten Kepulauan mentawai pada tahun 2000-2010. Persentase (nilai Z) dari kontribusi sektor perikanan meiliki nilai yang berkisar 11,75-13,25 %. Pada tahun 2000, sektor perikanan memberikan kontribusi untuk pendapatan daerah sebesar 11,75 % dari total pendapatan daerah, begitu juga pada tahun 2014, sektor perikanan memberikan kontribusi pada pendapatan daerah sebesar 13,80 %.

Tabel 6 PDRB Kabupaten Kepulauan Mentawai berdasarkan harga konstan (Juta rupiah)
















Sumber : BPS Kabupaten Kepulauan Mentawai, 2004 dan 2013



Kemiskinan

Masyarakat miskin adalah masyarakat yang tidak memiliki kemampuan untuk mengakses sumberdaya–sumberdaya pembangunan, tidak dapat menikmati fasilitas mendasar seperti pendidikan, sarana dan prasarana transportasi. Menurut Dinas Sosial, (2005) : kemiskinan adalah pertama, mereka yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencaharian tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar yang layak bagi kemanusiaan. Kedua, mereka yang sudah mempunyai mata pencaharian tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar yang layak bagi kemanusiaan. Ketiga, mereka yang termasuk kelompok marginal yang berada disekitar garis kemiskinan.
Empat dimensi pokok kemiskinan (lokal maupun nasional) menurut Makmun (2003) pertama, kurangnya kesempatan (lack of opportunity), kedua rendahnya kemampuan (low of capabilities), ketiga kurangnya jaminan (low-level of security) keempat ketidakberdayaan (low of capacity or empowerment).
Ciri-ciri orang miskin menurut Salim, (1980) yaitu umumnya tidak memiliki faktor produksi sendiri seperti tanah, modal atau keterampilan; tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh aset produksi dengan kekuatan sendiri; tingkat pendidikan rata-rata rendah, tidak sampai tamat sekolah dasar; kebanyakan tinggal di perdesaan, umumnya menjadi buruh tani atau pekerja kasar diluar pertanian; kebanyakan yang hidup di kota masih berusia muda dan tidak mempunyai keterampilan (skill) atau pendidikan.
Akar kemiskinan di Indonesia tidak hanya harus dicari dalam budaya malas bekerja keras. Keseluruhan situasi yang menyebabkan seseorang tidak dapat melaksanakan kegiatan produktifnya secara penuh harus diperhitungkan. Faktor–faktor kemiskinan adalah gabungan antara faktor internal dan faktor eksternal. Korupsi yang menyebabkan berkurangnya alokasi anggaran untuk suatu kegiatan pembangunan bagi kesejahteraan masyarakat miskin juga termasuk faktor eksternal.
Faktor-faktor internal juga dapat dipicu munculnya oleh faktor eksternal. Kesehatan masyarakat yang buruk adalah pertanda rendahnya gizi masyarakat. Rendahnya gizi masyarakat adalah akibat dari rendahnya pendapatan dan terbatasnya sumber daya alam. Selanjutnya, rendahnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah akibat dari kurangnya pendidikan. Hal yang terakhir ini juga pada gilirannya merupakan akibat dari kurangnya pendapatan. Kurangnya pendapatan merupakan akibat langsung dari keterbatasan lapangan kerja. Krisis ekonomi berimplikasi pada turunnya investasi, Putus Hubungan Kerja (PHK) naik akibat faktor produksi mengalami efisiensi, kerugian PHK adalah daya beli turun karena tidak ada pendapatan, maka dampak terbesar adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) turun (faktor internal). Rupiah turun berimplikasi pada penurunan produksi barang (faktor eksternal). Dan seterusnya begitu, berputar-putar dalam proses saling terkait.


Pengembangan Ekonomi Berbasis Perikanan

Perikanan dan kelautan merupakan salah satu sektor penting bagi perekonomian negara-negara di berbagai belahan dunia. Sektor perikanan dan kelautan di beberapa negara memiliki kontribusi yang cukup dominan terhadap PDB nasional. Sebagai contoh kontribusi perikanan dan kelautan terhadap perekonomian Jepang yang memiliki pantai sepanjang 34.386 km adalah sebesar 24,1 trilyun dollar atau 54 persen dari total PDB nasional. Adapun Cina yang memiliki pantai sepanjang 32.000 km, sektor perikanan dan kelautannya mampu menyumbangkan 17.353 trilyun dollar atau 48,40 persen dari total PDB nasional. Indonesia yang memiliki pantai sepanjang 81.000 km atau 2,5 kali panjang pantai Cina dan Jepang, pada tahun 1998 sektor perikanan dan kelautannya ternyata hanya mampu menyumbangkan sekitar 28 milyar dollar atau hanya 20,06 persen dari total PDB nasional (PKPSL, 2000 dalam Bappenas, 2005).
Paradigma pembangunan ekonomi berbasis perikanan dan kelautan di Indonesia memang baru memperoleh momentum emasnya beberapa tahun terakhir ini. Pada masa orde baru, pembangunan perikanan dan kelautan tidak memperoleh perhatian yang cukup akibat paradigma pembangunan yang berorientasi agraris semata. Namun sejak terjadinya pergantian rezim pemerintahan, semakin disadari bahwa aset dan sumber daya pesisir memiliki peluang yang terlalu besar untuk disia-siakan. Sejak tahun 1999, sektor maritim mulai dimasukkan ke dalam GBHN dan secara kelembagaan saat ini telah terbentuk departemen khusus yang menangani kelautan dan perikanan (Bappenas,2005).
Sebagai sumberdaya yang sangat vital dalam pembangunan ekonomi baik nasional dan daerah, proses pembangunan perikanan dan kelautan harus lebih mampu berperan dan berdaya guna. Pembangunan sumberdaya perikanan dan kelautan yang dimaksud tidak hanya bagi peningkatan hasil secara kuantitas, tetapi secara kualitas yang berarti meningkatkan serta menghasilkan nilai tambah komoditas dari perikanan dan kelautan. Pengembangan ekonomi berbasis kelautan termasuk didalamnya perikanan yang diwujudkan dalam suatu program pembangunan perikanan dan kelautan pada hakekatnya adalah rangkaian upaya untuk memfasilitasi, melayani dan mendorong berkembangnya suatau sistem bisnis yang berdaya saing, menguntungkan dan tentunya berkelanjutan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.


Konsep Pengembangan Ekonomi Lokal dan Pembangunan Berkelanjutan Perikanan Tangkap Kabupaten kepulauan mentawai


Pembangunan secara garis besar adalah suatu proses multidimensi yangmelibatkan perubahan struktur sosial, kelembagaan nasional, percepatan pertumbuhan ekonomi, pemerataan pendapatan dan pengentasan kemiskinan yang
kesemuanya itu bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat (Todaro, 2000). Secara filosofi, suatu pembangunan dapat diartikan sebagai upaya
yang sistematis dan berkesinambungan untuk menciptakan keadan yang dapat menyediakan berbagai alternatif yang sah bagi pencapaian aspirasi setiap warga yang paling humanistik (Rustiadi et al., 2006). Menurut Jamli (2003), terdapat tiga tujuan utama dari pembangunan ekonomi daerah; pertama, pembangunan kesempatan kerja yang berkualitas bagi penduduk; kedua, mencapai perekonomian daerah yang stabil; dan ketiga, membangun berbagai macam basis ekonomi dan kesempatan kerja.
Konsep Pembangunan Ekonomi Lokal sektor perikanan tangkap Kabupaten kepulauan Mentawai di awali mengenali potensi yang dimiliki serta memberdayakan berbagai sumber daya tersebut sebagai dasar dalam membangun daerah, khususnya perekonomian daerah dengan memperhatikan antara lain; kondisi ekonomi masyarakat, potensi sumber daya alam dan manusia, serta sosial dan infrastruktur yang tersedia untuk mencapai tujuan di atas. Dengan mempertimbangkan aspek-aspek tersebut selanjutnya disusun perencanaan pembangunan daerah dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Penekanannya adalah pembangunan yang berdasarkan sumber daya manusia dan sumber daya fisik yang potensial untuk menciptakan peluang pekerjaan dan menstimulasi aktivitas ekonomi baru berbasis lokal.
Pengembangan ekonomi lokal merupakan sebuah pendekatan yang menghubungkan daerah pedesaan atau daerah terbelakang dengan sistem ekonomi pasar guna memacu kegiatan ekonomi daerah tersebut. Pengembangan dan integrasi tersebut dicapai dengan berfokus pada klaster yang memberikan kesempatan bagi kaum miskin untuk memainkan peranan penting dalam kegiatan ekonomi itu. Pada gilirannya, implementasi pengembangan ekonomi lokal akan meningkatkan jumlah lapangan pekerjaan dan kesempatan, serta memunculkan strategi untuk menjaga agar sebagian besar kesempatan memperoleh pendapatan bertahan di daerah yang bersangkutan. Daerah akan menerima manfaat berupa peningkatan kegiatan ekonomi sebagai akibat dari peningkatan pendapatan rumah tangga, di samping memperoleh pendapatan langsung.
Pembangunan ekonomi Kabupaten Kepulaua Mentawai berdasarkan kekhasan daerah tersebut yaitu sangat cocok pengembangan  secara berkelanjutan potensi perikanan tangkap, pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya alam yang potensial untukmenciptakan peluang kerja dan menstimulasi aktivitas ekonomi baru. Pembangunan ekonomi harus tepat sasaran sehingga   pembangunan yang dilaksanakan sesuai dengan karakteristik dan potensi dari wilayah tersebut. Kabupaten Kepulauan Mentawai dibagi menjadi wilayah-wilayah yang disebut kecamatan-kecamatan maka dalam pembangunannya kabupaten mengenali masing-masing kecamatan tersebut. Upaya ini juga dalam rangka mengurangi kesenjangan antar wilayah.
Pengembangan ekonomi lokal sektor perikanan tangkap Kabupaten kepulauan Mentawai diarahkan untuk mencapai tiga tujuan yang saling berkaitan, yaitu a) penciptaan pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja; b) berkurangnya jumlah penduduk miskin; c) terwujudnya mata rantai kehidupan yang berkelanjutan (sustainable livelihood) (Dendi et al., 2004).
  


Dalam tiori pembangunan di jelaskan bahwa tujuan akhir dari pembangunan adalah peningkatan kesejehteraan masyarakat. Dalam Kontek pembangunan ekonomi lokal perikanan tangkap di kabupaten kepulauan mentawai seperti yang di jelaskan pada gambar diatas bahwa ada hubungan yang saling keterkaitan yang tidak bisa di pisahkan apabila ingin mewujudkan pengembangan ekonomi lokal yang berkelanjutan dan memiliki dampak mampu mengrangi tingkat kemiskinan.
Secara ekonomi pengembangan ekonomi lokal sektor perikanan tangkap daerah kabupaten kepulauan mentawai di maksudkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Hal ini terlihat kontribusi PDRB sektor perikanan yang terus meingkat. kontribusi pendapatan sektor perikanan terhadap pendapatan daerah Kabupaten Kepulauan mentawai pada tahun 2000-2010. Persentase (nilai Z) dari kontribusi sektor perikanan meiliki nilai yang berkisar 11,75-13,25 %. Pada tahun 2000, sektor perikanan memberikan kontribusi untuk pendapatan daerah sebesar 11,75 % dari total pendapatan daerah, begitu juga pada tahun 2013, sektor perikanan memberikan kontribui pada pendapatan daerah sebesar 13,80 %.

Akan tetapi pertumbuhan ekonomi dari sektor perikanan ini belum mampu menciptakan income distribution. Pertumbuhan ekonomi terpusat di 3 kecamatan yaitu kecamatan sikakap yang merupakan central kegiatan perikanan tangkap, siberut tengah dan sipora selatan.

Tabel 7 Income Distribution Sektor Perikanan Tangkap Kabupaten kepulauan Mentawai













Sumber : BPS Kabupaten Kepulauan Mentawai, 2004 dan 2013

Faktor yang menyebabkan rendahnya income Distribution adalah karena pemerintah provinsi hanya memfokuskan pengembangan perikanan tangkap di 3 kecamatan tersebut terlebih di wilayah Pelabuhan Perikanan Pantai Sikakap kecamatan sikakap. Disparitas ini menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi lokal sektor perikanan belum secara penuh memberikan multiple efek bagi kesejehteraan seluruh masyarakat Kabupaten Kepulauan mentawai. Jika kita lihat potensi kelautan dan penangkapan di kabupaten tersebut maka dapat di katakan bahwa ada miskom antara pemerintah daerah dengan masyarakat dalam mengembangkan sektor perikanan tangkap.  
Berdasarkan data BPS, 2013 Armada kapal penangkap ikan yang ada di PPP Sikakap terdiri atas Kapal Motor (KM), Perahu Motor Tempel (PMT), dan Perahu Tanpa Motor (PTM). Jumlah kapal pada tahun 2006 sebanyak 219 kapal dan pada tahun 2007 mengalami penurunan menjadi 191 kapal hingga pada tahun 2010 hanya terdapat 110 kapal yang mendarat di PPP Sikakap. Penurunan pada tahun 2007 dan 2010 diakibatkan oleh adanya bencana alam yaitu terjadinya gempa dan tsunami di daerah tersebut khususnya di Sikakap sehingga nelayan yang biasanya menangkap ikan dilarang melaut oleh pemerintah setempat.
Potensi jumlah nelayan di PPP Sikakap tahun 2005 hingga 2008 jumlah nelayan mengalami peningkatan dan didominasi oleh nelayan penuh. Hal ini menunjukkan bahwa sumberdaya ikan yang tersedia pada tahun tersebut masih banyak dan nelayan asing belum banyak melakukan aktivitas penangkapan ikan di Perairan Mentawai. Jumlah nelayan penuh pada tahun 2009 hingga 2011 cenderung berkurang. Nelayan penuh pada tahun 2011 berjumlah 34 orang, hal ini diduga karena adanya bencana alam seperti gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Kabupaten Mentawai pada tahun 2010. Selain itu, berkurangnya jumlah nelayan diakibatkan adanya kapal-kapal ukuran besar yang melakukan aktivitas penangkapan di Perairan Mentawai. Kapal-kapal tersebut datang dari daerah lain yaitu Sibolga, Bengkulu, Jawa dan Padang.
Untuk mewujudkan pembanguan berkelanjutan pemerintah daerah menekankan pada penjagaan kelestarian lingkungan perikanan. Hal ini terlihat bagaimana fokus Pemerintah Daerah kepada program rehabilitasi SDA sektor kelautan seperti penanaman magrov. Selain itu fungsi pengawasan perikanan yang di tegakkan oleh pemerintah daerah memiliki peranan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan seperti pengawasan aktivitas penangkapan ikan oleh nelayan lokal maupun pendatang oleh badan pengawas perikanan, dalam hal ini mengawasi keberlanjutan Sumberdatya Ikan yang ada seperti pelarangan penggunaan pukat harimau atau trawl, mengawasi hasil tangkapan yang tidak layak tangkap susui Undang-Undang kelauatan tang berlaku serta mengawasi kemungkinan pencemaran yang akan terjadi.
Dalam proses pengembangan ekonomi lokal, Kabupaten Kepulauan Mentawai memperhatikan komponen-komponen pendukung, baik dari internal maupun eksternal yang bisa mempengaruhi kelancaran proses pengembangan ekonomi lokal yang diharapkan. Beberapa faktor tersebut ialah infrastruktur dan kondisi lingkungan. Investasi di bidang infrastruktur sangat berperan besar dalam mendukung pengembangan ekonomi lokal. Dalam  penentuan jenis infrastruktur yang akan disiapkan untuk suatu daerah harus sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan daerah yang bersangkutan. Sedangkan kondisi lingkungan dalam hal ini ialah penciptaan tools yang memudahkan proses pengembangan ekonomi lokal, seperti penciptaan peraturan dan payung hukum, prosedur administratif pajak, dan pungutan biaya, serta biaya-biaya tak terduga lainnya.
Pengembangan ekonomi lokal sektor perikanan tangkapa kabupaten Kepulauan Mentawai  memainkan peranan penting dalam mendorong kapasitas masyarakat dan membantu mereka dalam memperkuat posisi. Program penguatan yang dikembangkan difokuskan pada : a) pembentukan basis kolektif atau mendorong kemapanan organisasi, b) meningkatkan ketrampilan dan kapasitas masyarakat, serta c) menyiapkan wahana bagi masyarakat untuk terlibat dalam perencanaan dan pembuatan kebijakan. masyarakat merupakan kelompok yang paling lemah dan memerlukan dukungan untuk menyuarakan kepentingan mereka maupun untuk meningkatkan ketrampilan mereka. Mengorganisir para masyarakat ke dalam sebuah kelompok hanyalah merupakan salah satu bagian dari upaya untuk mengikutsertakan masyarakat dalam kegiatan pembangunan.
Konsep pengembangan ekonomi lokal yang di kembangkan adalah pembangunan yang pro-masyarakat miskin yaitu yakni : 1) investasi pada peningkatan sumber daya manusia dan kapital sosial penduduk miskin; 2) kebijakan dan pelayanan yang menghasilkan tersedianya secara luas dan berkelanjutan kebutuhan dasar masyarakat (akses pangan, air bersih, perumahan, kesehatan dan pendidikan); 3) kebijakan dan pelayanan yang mengurangi biaya-biaya transaksi sehingga membuka peluang bagi masyarakat miskin untuk memperoleh pekerjaan dan atau nilai tambah dari usaha sendiri; 4) peningkatan akses masyarakat miskin kepada sumber daya ekonomi (modal, lahan, sarana produksi, informasi pasar dan lain-lain); dan 5) pembangunan yang ramah lingkungan.


SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

1.      Pembangunan sektor perikanan tangkap Kabupaten kepulauan Mentawai mengembangkan pendekatan ekonomi lokal dimana memperhatikan aspek pembangunan berkelanjutan yatiu ekonomi, ekologi dan sosil.
2.      Tujuan ekonomi yaitu peningkatan pertumbuhan ekonomi menjadi sektor unggulan yang berkontribusi kepada PDRB dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, namun belum memberikan income distribution kepada seluruh  masyarakat.
3.      Dalam menjaga keberlanjutan ekosistem berbagai program pengawasan dilakukan oleh pemerintah daerah diantarnya pengawasan aktivitas penangkapan ikan, pengawasan terhadap hasil tangkapan layak tangkap, pengawasan kemungkinan terjadi pencemaran lingkungan, penanamana magrove serta beberapa kebijakan seperti pelarangan penangkapan ikan menggunakan alat tangkap trawl dan bahan peledak.
4.      Pemrintah daerah mengikutsertakan masyarakat dalam program pembangunan  sektor perikanan tangkap.



DAFTAR PUSTAKA

Bappenas, 2004. Tata Cara Perencanaan Pengembangan Kawasan untuk Percepatan Pembangunan Daerah. Direktorat Pengembangan Kawasan Khusus dan Tertinggal. Bappenas, Jakarta.

[BPS] Badan Pusat Statistik Kabupaten Kepulauan Mentawai. 2004. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Kepulauan Mentawai tahun 2000-2004. Tuapeijat: Badan Pusat Statistik.
_____. 2013. Kabupaten Kepulauan Mentawai dalam Angka Tahun 2011. Tuapeijat: Badan Pusat Statistik.
_____. 2014. Kabupaten Kepulauan Mentawai dalam Angka Tahun2012. Tuapeijat: Badan Pusat Statistik.
_____. 2011. Sumatera Barat dalam Angka Tahun 2011. Padang: Badan Pusat Statistik.

Dendi, et al. 2004. Menanggulangi Kemiskinan melalui Pengembangan Ekonomi Lokal: Beberapa Pelajaran dari Nusa Tenggara. Dirjen Bina Pembangunan Daerah Departemen Dalam Negeri – GTZ (Deutsche Gesellschaft fur Technische Zusammernabelt GmBH). Jakarta.

Makmun. 2003. Gambaran Kemiskinan dan Action Plan Penanganannya. Dalam Kajian Ekonomi dan Keuangan, Vol. 7, No. 2: Juni, 2003.

Muchtar. 2006. Strategi Pemberdayaan Berbasis Kelembagaan Lokal dalam Penanganan Kemiskinan Perkotaan: Kasus Implementasi P2KP di Desa Sukadanau.http://www.depsos.go.id/Balatbang/Puslitbang%20UKS/pdf/Muchtar.pdf.[sep 22, 2006 [4 April 2007].

Nasdian, F.T. 2014, Pengembangan masyarakat. Bogor : Institut Pertanian Bogor.

Nurkse, Ragnar. 1953 Pembangunan Daerah dan Pemberdayaan Masyarakat http://www.kimpraswil.go.id.publik/P2KP/Des/memahami99.htm [4 April  2007]

Wiranto, T. 2004. Pembangunan Wilayah Pesisir dan Laut Dalam Kerangka Pembangunan Perekonomian Daerah. Makalah Seminar Sosialisasi Nasional Program MFCDP 22 September 2004. Jakarta.
 

1 komentar: